Perempuan, Menjadi Sama atau Beda??

April 21, 2010 by · 1 Comment
Filed under: Peduli dan cinta tanah air 

Perempuan dan Bahasa

Aku adalah Subjek
Ketika aku diwakilkan dalam kalimat
“Bapak membaca koran dan Ibu menanak nasi”
atau
Saat kesejajaran menjadi tema yang membumi
Dalam bentuk emansipasi yang sepenuh atau setengah hati

Aku adalah Predikat
Ketika hanya aku yang mewakili satu kata
Saat aku ada dan bisa mengada
Melahirkan nyawa ke dunia dan bahagia karenanya

Aku adalah Objek
Ketika aku indah dan dikagumi
Dengan membendakan diri sendiri
Mendirikan harga dari benda

Aku adalah Keterangan
Menjadi milik dan kepemilikan
Ketika aku jadi karena menjadi
Dan sapaan untukku menjadi terwakilkan
“Apakabar Nyonya…?”

Aku adalah perilaku
Ketika aku, kamu, dan kita tidak saling malu
Saat aku menuntut ilmu, kamu menjemur baju
Saat aku menangis dan kamu menangis bersamaku
Dan Aku mencintaimu karena itu
Dan Kamu mencintaiku karena itu

Aku adalah Perempuan
Ketika aku, kamu, dan kita bisa berbagi peran
Tanpa saling mempertanyakan

Aku adalah Perempuan
Aku tidak sekedar tanda atau kata
Ketika aku, kamu dan kita memilih untuk memaknainya

Di buat di Semarang Maret 2008….

Dan untuk menyambut Hari Kartini tahun 2010 ini, ada satu pemikiran yang menyentak dan mengelitik yang dilontarkan oleh seorang tokoh perempuan di Indonesia yang baru-baru ini saya baca komentarnya di koran, sayangnya saya tidak ingat namanya. Beliau mengatakan, pada zamannya, RA Kartini berjuang untuk menjadi beda dari mayoritas perempuan di lingkungannya terutama dalam hal pendidikan.Lalu, pada zaman ini mengapa banyak perempuan-perempuan yang ingin menjadi ‘Sama?” Sama putih, sama tinggi, sama bentuk badan, sama jenis rambut, dan sama yang lainnya?

Show “Perempuan, Menjadi Sama atau Beda??”