Memaknai Kehilangan
Patria Listyawan Setia Joeangkara Sihombing Nababan.(Budhi)
Anak pertama dari 5 bersaudara, My beloved brother..telah dipanggil olehNYA pada hari ke-3 lebaran, setelah koma selama 2×24 jam di rumah sakit.
Hari istimewa seperti Lebaran, lewat begitu saja dalam hitungan kami, ketika kami dihadapkan oleh waktu yang dihitung menit demi menit, jam demi jam, menunggu kesadarannya kembali.
Kami sekeluarga, saudara-saudara, teman-teman, tetangga, semua merasa tersentak…merasa kecolongan. Bukan tanpa sebab kami merasa seperti itu, Almarhum adalah orang yang penuh vitalitas hidup. Pantang menyerah menghadapi apapun halangan yang dihadapinya, meskipun dia dilahirkan tidak dapat mendengar, namun tidak pernah kami melihatnya takut, minder atau merasa terbatas. Namun sebaliknya, ketika orang-orang melakukan 100 % untuk belajar, maka dia mengusahakan 150%. Ketika kami berkomunikasi dan menjalin pertemanan dengan 10 orang, dengan caranya sendiri dia dapat membuatnya 10 kali lebih banyak.
Beberapa hari setelah kepergiannya, kami mengalami penyesalan yang mendalam. Tidak cukup berkomunikasi, tidak cukup menyayangi, tidak cukup menemani, terlalu sibuk dengan urusan sendiri, hanya sebagian kecil diantara penyesalan -penyesalan kami. Hingga pada suatu hari kata-kata menggema ditelinga kami, Tuhan Lebih Tahu…Maknai dengan Hati, karena logika, tidak akan pernah membuat kita rela.
Maka inilah yang kami dapatkan dari memaknai :
Dia mengajarkan kami untuk berhenti, menyapa, melayani dan berbicara dengan semua orang, seperti selayaknya semua manusia ingin dihargai.
Dia mengajarkan kami untuk tidak pernah menyerah.
