Sejak beberapa hari ini gempita.org sedang dalam proses perubahan secara besar-besaran, baik itu dari sisi tampilan maupun fungsi-fungsi yang diganti dan/atau ditambahkan. Semoga teman-teman sekalian menyukai wajah baru gempita.org ini. Mohon apabila terdapat error, kerusakan, kesalahan, dan lain sebagainya baik itu dari segi tampilan, query, proses eksekusi yang lambat silahkan dilaporkan ke admin. melalui email : admin[at]gempita[dot]org dengan subject/judul email yang disertai dengan kata “Laporan”. Terima kasih dan sekali lagi selamat menikmati gempita.org yang baru. HIDUP INDONESIA!!!
Posts Tagged ‘gempita’
Society For All
August 3rd, 2010
Frenia Nababan
“Nothing About Us Without Us”
Once again, I had an oppurtunity to be involved in a training in Bangkok which was organized by APCD and JICA. It was a little bit different from the first training that I had attended. This time, the participants of the training were not only people with disabilities but also people without disabilities whom are workers of Community Based Rehabilitation programs in the Asia Pacific Region.
As a Sign language interpreter for Fachri Siradz from Sehjira Foundation and as a representative of Gempita (Sehjira’s partner), I have gained more knowledge about the importance of working with and in the community level. Why in the community? Because sometimes we forget that we are all belongs to a community and this way of thinking make us tend to make plans with a very high expectation, such as : changing the rules and changing this world. But in order to achieve it, we often neglect the steps that we should have taken to achieve our big goal.
Community Based Rehabilitation (CBR) believes that in order to change the world, firstly and more importantly we have to try from a very basic level, grass root level, changing the mindset of our own community and the people who lived in it. Even though it seems to be very easy to understand, the implementation of this value may have some barriers.
One of the biggest barrier that might occurred is the self-determination of a person with disabilities themselves. Therefore, working closely with Independent Living Movement (ILM) has made a very significant evolution of CBR’s.
CBR may be defined, according to three United Nation Agencies, ILO, UNESCO, and the WHO, as a “strategy within community development for the rehabilitation, equalization of opportunities, and social integration of all people with disabilities.
Menjadi Bahagia
May 23rd, 2010
wiwitasriwulandari
Setiap orang pasti punya banyak keinginan; ingin punya mobil, ingin langsing ingin gaji besar, ingin ini; ingin itu dan ingin ingin yang lainnya, tapi apa reaksi kita ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi? kita semua pasti akan menjawab sama ‘KECEWA’ kita akan merasa susah selamanya.
Lalu bagaimana jika keinginan tersebut terpenuhi? maka kita akan merasa senang.
Seorang teman dikantor sudah seminggu ini uring uringan karena keinginannya untuk mendapat bonus tahunan tidak terpenuhi, dia merasa sebagai karyawan yang terzolimi dan sebagai karyawan paling sengsara. Dia melihat bahwa kami, teman temannya yang mendapatkan bonus dianggap selalu merasa senang diatas penderitaannya. Saya pun sempat berpikir bahwa teman yang mendapatkan bonus terbesar pasti yang merasa paling senang.
tapi betulkah begitu?
Setelah dipikir pikir, sepertinya tidak seperti itu juga, buktinya teman saya yang saya ketahui mendapat bonus cukup besar, terlihat muram mukanya, dia tidak seceria yang dulu dan ternyata itu karena konsekuensi dari bonus yang diterimanya. Apa yang didapat tentu saja harus sesuai dengan yang dihasilkan dan konsekuensinya dia harus bekerja lebih ‘berat’ dibandingkan temannya yang lain.
Dari apa yang saya alami tersebut, saya menyadari bahwa belum tentu ketika keinginan kita tercapai maka kita akan bahagia, karena mungkin akan muncul konsesukensi dari hal yang kita capai tersebut. Timbul pertanyaan dalam benak saya, bagaimana supaya kita bisa selalu merasa senang? ada yang bilang kuncinya adalah bersyukur, apapun yang kita dapat hari ini atau apapun yang terjadi pada kita adalah karunia, selalu ada hikmah di dalamnya, jadi kita harus mensyukuri apa yang telah kita dapat baik itu kesenangan ataupun kesulitan.
Saya masih saja berpikir, selain bersyukur apa lagi yang bisa kita lakukan untuk merasa bahagia? karena bersyukur tetap saja bagi saya masih terlalu abstrack.
Saya coba menganalisa, mungkin kalau kita tidak punya keinginan maka kita juga tidak akan merasa kecewa atau susah karena tidak ada yang perlu kita kejar. Jadi kita juga tidak akan merasa susah ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi karena toh kita memang tidak punya keinginan.
Posted in
Tags:


