Dunia tanpa Suara
Pernah membayangkan gak teman-teman, bagaimana rasanya ketika dunia disekeliling kita tak bersuara? atau yang lebih menyiksa, ketika kita tahu ada banyak suara disana namun kita tidak bisa menangkapnya. Kita tidak bisa menikmati lagu-lagu, tidak bisa mendengar seseorang memanggil nama kita, atau ketika seseorang membisikkan kata sayang ditelinga.
Mungkin suara bagi kita sama artinya seperti: ………………. serangkaian titik yang tidak kita mengerti atau suara adalah serangkaian kode seperti @*&%568$#@#*_)*654….975+=)*( kumpulan-kumpulan makna yang kita tidak akan pernah memahaminya..
Ketika 1 + 1 harus jadi 2 di dalam dunia kita, maka suara yang kita dengar = bunyi yang kita keluarkan.
Jadi, ketika telinga kita tuna rungu (tidak bisa mendengar) maka akan otomatis kita menjadi tuna wicara. Namun tidak berlaku sebaliknya…
“I cursed the fact i had no shoes until I met a man who had no feet” Persian proverb
taken from Robin Shamra’s book.
Kebetulan itulah yang saya alami beberapa minggu yang lalu. Jadi ceritanya, saya beruntung mewakili GEMPITA berkunjung ke yayasan SEHJIRA (yayasan tuna rungu sehat jiwa dan raga). Banyak makna yang bisa dipelajari. Terutama, Saya SALUT sama pengurus-pengurus yayasan, hampir semua dari mereka tuna rungu dan mereka berusaha untuk memperjuangkan agar hak-hak mereka dalam pekerjaan, pendidikan dan masyarakat sejajar dengan orang-orang yang lain. HEBAT. Selain itu yang tak kalah hebat adalah para relawan, yang tidak tuna rungu dan mau saling berbagi pengetahuan.Seperti relawan guru mengaji ini :

Satu poster disitu juga menarik perhatian saya, tulisannya Please sign to me…sign disini maksudnya adalah bahasa isyarat.
Bukan berarti teman tuna rungu kita tidak bisa berkomunikasi dengan cara kita ,mereka bisa dengan membaca gerakan bibir dan mencoba mengartikannya. Nah, dari kata-kata di poster itu, saya jadi mikir, kok kita yang bisa dibilang lebih beruntung daripada mereka malah lebih egois ya?Mereka mempelajari bahasa yang kita gunakan, sementara kita?? Kalo komunikasi artinya adalah menciptakan pengertian, kayaknya giliran kita yang harus lebih banyak belajar.
Di yayasan itu, selain belajar mengaji teman-teman disitu jg belajar komputer, menjahit, bahasa isyarat, dan lain-lain..


Kesempatan berharga itu, tidak mungkin saya dapatkan bila tidak ada bantuan dari teman-teman PPI Lubeck. Oleh karena itu, Saya atas nama teman-teman di GEMPITA ingin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya dan apresiasi yang mendalam kepada PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Lubeck Jerman, yang telah memberikan bantuan kepada teman-teman kita di SEHJIRA dan juga karena telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk menyalurkan bantuannya. Sehingga kami bisa mendapatkan kesempatan melihat sisi lain kehidupan serta mencoba melihatnya dari kacamata pengertian.
Di Sisi kita, ada 250 lumba-lumba terdampar..Beratus-ratus lah
an terbakar…
Berjuta-juta anak kelaparan…
Pilihlah dimana hatimu diletakkan
dan tunjukkanlah sedikit kepedulian..
Posted on 20 February 2009 at 6:35 am
thanks,sist..udah jd perwakilan kita2 dsana;)
berharap seandainya saat gua dsana bisa meluangkan wkt sejenak utk ksana,maybe next time…please keep on the good work in Sehjira,ok?send me all the news…
dari dulu pengen bgt ada kesempatan utk belajar bhs isyarat,tp entah kpn bsa kesampaian? sebenarnya mrkpun g ingin kita perlakukan istimewa,mrk hanya ingin kita perlakukan sama…so,just help them..because there´re have the right to shine also…^_^
Posted on 21 February 2009 at 10:30 pm
satu hal yang saya pelajari dari mereka bahwa untuk mendengar tidak harus menggunakan telinga. kadang kita harus belajar untuk mendengar yang tak bersuara dan melihat yang tak tampak. Banyak cara untuk bisa mengerti dan memahami orang lain bukan begitu? begitu….!!!!
Posted on 10 March 2009 at 11:26 am
Saya ingin sekali berbagi kepada semua orang yang memiliki teman tuna rungu, sebab orang sering beranggapan kalau teman tuna rungu itu tidak bisa berbicara dengan lancar. Saya ingin tunjukkan bahwa yang tuna rungu bisa berbicara dengan lancar dan baik sebagaimana orang mendengar. Saya ingin menginformasikannya kepada semua orang.
Posted on 19 February 2009 at 9:53 am
Satu hal yang saya pelajari dari teman-teman tuna rungu (saya kebetulan 2 minggu lalu bersama Azeeza mengunjungi SLB di Semarang) bahwa kejujuran mereka harus kita acungi jempol. Saya sangat ingin menjadi seperti mereka dalam hal kejujuran. Tidak terpikir sedikitpun di kepala mereka untuk memanipulasi apapun. Bukankah seharusnya demikian juga hidup kita?
Doakan agar tulisan tentang tuna rungu yang sedang saya kerjakan segera selesai. Tidak sabar untuk membuka mata dunia bersama-sama.