Posted on 1st December 200913 Responses
18.442 orang terinfeksi HIV di Indonesia, what can we do now?


Entah berapa 1 Desember yang sudah kita lewati bersama-sama. Sedihnya, setiap tanggal 1 Desember kita masih terus disuguhi bertambahnya angka orang yang terpapar HIV.

Yang paling menyedihkan adalah, bukan cuma mereka yang dewasa dan memiliki tanggung jawab penuh atas perilakunya saja yang memiliki resiko tertular. Bahkan istri yang tidak pernah berhubungan seksual dengan orang lain selain suaminya, ternyata juga banyak ditemukan tertular HIV. Tanpa maksud mencari siapa yang salah dan siapa yang terkalahkan, tapi fakta bahwa HIV menjadi semakin common dalam kehidupan kita saat ini, harus mulai disadari bersama-sama.

peduli-aids1

Di Indonesia, ada 6 propinsi yang dinyatakan sebagai propinsi terkonsentrasi HIV, dimana jumlah orang terpapar HIV sudah mencapai angka lebih dari 5% dari jumlah penduduknya. Propinsi tersebut adalah, Papua, DKI Jakarta, Riau, Bali, Jawa Timur dan Jawa Barat. Yang berada di luar propinsi itu, tidak disarankan untuk langsung berdiri dan bersorak, karena – sekali lagi – fenomena gunung es masih berlaku dalam kasus HIV ini. Sementara teman-teman yang tinggal di enam propinsi tersebut, disarankan untuk segera mengetahui status HIV-nya. Positif ataukah negatif.

Saya ingat punya seorang teman yang pernah bekerja untuk HIV di sub saharan Afrika. Dia cerita kalau di sana setiap orang pernah berinteraksi dekat dengan ODHA, atau banyak juga diantaranya yang ODHA. Contoh gampangnya gini nih,

* Adik saya ODHA
* Saya baru saja menolong persalinan seorang ODHA, untunglah anaknya negatif
* Satu lagi kasus ODHA dikeluarkan dari pekerjaan di kantor saya
* Ibu saya ODHA padahal dia tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain selain ayah saya. Ayah saya sendiri meninggal setahun lalu karena TBC,

Pernyataan-pernyataan seperti di atas itu dan padanannya mudah sekali ditemukan di Afrika. Hal serupa bisa saja terjadi di Indonesia, kalau kita tidak mencegahnya. Saat ini jumlah orang yang terinfeksi HIV 18.442 orang (Data Dinkes Sep 09), diperkirakan tahun 2010 nanti jumlahnya bisa mencapai 130 ribu orang. Wah, kok meledak sekali? Bukan meledak, tapi angka yang sesungguhnya memang kadang tidak terungkap. Jadi kalau sekarang data cuma ada di angka 18 ribu, mungkin jumlah sesungguhnya bisa 10 kali lipat dari itu.

Now the question is, how can we play role in the prevention of HIV infection?

Iya dong, kita harus punya peran untuk mencegah penularan HIV ini. Setia, tidak berhubungan seks atau memakai kondom pasti sudah tahu dong ya? Nah, ada cara lain lagi nggak? Pasti ada.

Kalau memang dalam salah satu fase hidup kita pernah merasa melakukan tindakan yang mengandung resiko terpapar HIV, maka VCT is a must. Ada banyak klinik VCT (tes HIV secara suka rela) di Indonesia ini. Silahkan datang dulu, ngobrol-ngobrol sama konselornya. Nah, sekarang, tindakan apa yang memungkinkan terpapar HIV?

* Berhubungan seks tidak aman
* Bertukar jarum suntik
* Tattoo dan tidak yakin jarumnya baru atau enggak
* Transfusi darah dan tidak yakin jarumnya baru atau enggak
* dst

Nah, sepulang dari VCT, boleh dikatakan kita baru mulai salah satu tahap pencegahan. Kalau ternyata negatif, kita bisa jauh-jauh dari melakukan hal-hal yang beresiko terpapar HIV, kalau ternyata positif, tenangggg… DUNIA BELUM BERAKHIR.

Banyak kelompok dukungan yang bisa membantu kita mendapatkan informasi. Dimana mendapatkan obatnya, gaya hidup seperti apa yang harus kita ikuti, beraktifitas positif bersama-sama akan membuat kita bersemangat lagi. Karena saya punya banyak sekali teman yang terpapar HIV dan mereka sehat-sehat saja, justru jauh lebih aktif ketimbang dulu sebelum mereka mengetahui statusnya. Yang jelas tanggung jawab kita kalau mendapati status positif adalah: tidak menyalahkan siapapun dan tidak berusaha mencari teman dengan menularkan HIV pada orang lain.


Comments
comment by Frenia Nababan
Posted on 1 December 2009 at 10:37 am

Kemarin di Berita saya lihat demo orang2 yang menolak untuk memakai kondom sebagai salah satu pencegahan HIV, menurut mereka tidak sesuai dengan norma ketimuran kita..Gmana Tuch??

comment by dian
Posted on 1 December 2009 at 10:43 am

Wah, norma ketimuran yang mana nih? Yang nggak mau memakai kondom tapi tetap memakai jasa pekerja seks komersil? Hehe… Saya bingung dengan orang-orang yang mempertahankan ‘norma’ ketimuran maupun kebaratan atau keutaraan.
FYI, di Indonesia jumlah laki-laki yang pergi berbelanja seksual tahun ini mencapai angka 3,3 juta orang. Sementara tingkat penjualan kondom hanya naik 1,3 % dari tahun lalu. Nah lho, kalau katanya ‘norma’ yang dijunjung tinggi, mestinya angka 3,3 juta itu tidak sebesar itu dong?
Sekarang kan angka pemakai jasa seksual sudah setinggi itu, ya udah, tinggalkan ‘norma’ ketimuran, dan ikuti gaya hidup sehat.
Haduh… kok panjang ya jawabannya.

comment by Frenia Nababan
Posted on 1 December 2009 at 10:47 am

Percayalah kita berdiri di sisi yang sama,,,Tapi yang jadi PR adalah gmana ya mengedukasi masyarakat yang masih menganggap membagikan kondom, membicarakan seks adalah hal yang tabu. Padahal realita disekitar kita berbicara lain…Ada ide??

comment by dian
Posted on 1 December 2009 at 10:59 am

Hehehe… pastinya kita berdiri di sisi yang sama. otherwise I won’t write this posting.
Ide saya adalah, memiliki simpul-simpul komunikasi dimana mereka merasa percaya, aman dan hormat pada simpul tersebut. Agent of change kalau ndak salah istilahnya ya. Contoh terdekat, di kampung mamak saya, kalau pak RT bicara di rapat RT, wuih!! juara banget dah. Presiden pidato juga kalah. Lalu di kampung mbok Minah, yang namanya posyandu itu gak ada matinya. Cuma modal dikasih bubur kacang ijo, tapi para ibu itu sangat percaya dengan apa yang dibilang sama para kader.
Manfaatkan simpul-simpul kecil yang dipercaya oleh warga, terutama mereka yang jauh dari paparan informasi. Berikan pak ketua RT dan kader posyandu ilmu yang banyak.
Sementara untuk jagoan-jagoan yang nggak lagi ikut rapat RT dan pergi ke pos yandu, Arisan ibu-ibu socialita, rapat di kantor, adalah simpul terdekat dan terpercaya buat mereka.
Gimana? Ide yang jumawa dan biasa aja kan?

comment by Radit Sotoy
Posted on 1 December 2009 at 11:04 am

soal kondom kok saya punya suatu pertanyaan begini ” hayoo pilih mana,Lebih baik haram/zina tapi pakai kondom atau zina/haram tapi tidak pakai kondom?? ”

dan soal pembagian kondom, itu toh dilakukan pada tempat2 yang semestinya dibagi ya?? CMIIW.
maksud saya, gak mungkinkan bagi2 kondom dilakukan di Mal2, ada satu pasangan yang lagi bergandengan tangan dengan aduhay lalu tiba2 dikasih kondom? kalo yang seperti ini sama aja dengan “nih gw kasih kondom, sana gih pasang diburung elo, terus naikin tuh pacar elo.” hehehe.

dan saya rasa beda kalo dibagi ditempat semestinya, tempat2 para PSK mungkin. kalo yang ini “nih kondom, lebih baik pakai ini toh daripada nggak?”

gitu kali..hehehehe

comment by dian
Posted on 1 December 2009 at 11:11 am

Setuju.
Sama kayak bagi2 sumpit di rumah makan Jawa. Nggak nyambung. Haduh… komentar orang lapar nih…
Bagemana sodara Frey?
Ada ide lain lagi?

comment by Frenia Nababan
Posted on 1 December 2009 at 11:16 am

@Dian, Tau gak yang demo2 itu banyak loch anak muda nya…
@Mas Radit, Setuju!!!

comment by Mrs. Wiwit Potter
Posted on 1 December 2009 at 12:10 pm

pantesan Jupe di peringatkan gara2 bagiin kondom dalam kaset dan CD, karena kl dipikir2 kan memang tidak semestinya, lha wong CD dan kaset adalah barang umum yang bisa di beli sama semua orang termasuk anak kecil hehehehe…

saya jadi inget berbagai pelatihan tentang HIV/AIDS yang pernah diikuti, halah… BTW penularan yang paling besar dari jarum suntik pemakai narkoba, karena emang itu yang susah dijangkau, nah kalo masalah PSK itu emang paling gampang dijangkau, setahu aku hampir di semua lokalisasi ada LSM/NGO yang memang mengurusi masalah tersebut, kegiatannya termasuk sosialisasi dan pemeriksaan rutin penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS. Biasanya mereka juga punya tim outreach yang tugasnya menjangkau para pemakai PSK (kayak di pelabuhan, ke tempat mangkal supir truk dll)

comment by dian
Posted on 1 December 2009 at 12:27 pm

Kondisi terbaru sudah berubah angkanya, miss Potter.
Katanya, seperti ini data terbarunya:
50% dari hubungan seksual (hetero)
47% dari jarum suntik (IDU)
sisanya dari gay, transgender dan waria.

comment by radit sotoy
Posted on 1 December 2009 at 12:43 pm

eh bentar…bentar…itu yang 50% bukannya terbagi antara hetero dan gay?? dengan persentase terbanyak dari hetero?? CMIIW.

comment by dian
Posted on 1 December 2009 at 12:53 pm

tidak.
gay & waria & transgender yang terinfeksi karena hubungan seksual mereka cuma 3 persen itu.
tapi sekali lagi, itu yang tercatat lho…
angka sesungguhnya saya ndak tau, :D

comment by Mrs. Wiwit Potter
Posted on 1 December 2009 at 1:28 pm

okelah kalo begitu… wahaaa… jadi kanngen kebersamaan dengan komunitas NGO di SMG dan sekitarnya, dimana dulu aku jadi aktivis dan langsung turun ke lapangan hahahahaha…

comment by Caramoantour
Posted on 28 December 2009 at 12:18 pm

It is quite scary that there is still no cure for HIV/AIDS and the only way we can fight it is by prevention. How long would it take our scientists to develop a cure or vaccine for this disease?
!

Leave a Response
XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>