3 R : Ramah Berkendara, Ramah Lingkungan, Ramah Ilmu

May 30, 2009 by · 5 Comments
Filed under: Peduli dan cinta tanah air 

Sebuah kegerahan dan kegundahan sebenarnya yg ada pada diri saya ketika menuliskan ini. Cerita berawal pada akhir tahun lalu, dua bulan menetap kembali di Jakarta setelah lima tahun dalam pengembaraan panjang menuntut ilmu guna menanamkan bintang berbinar di langit nan tinggi. Saat saya harus kembali bergulat dengan kemacetan, dan efek stress yang ditimbulkan setelah berlama-lama berada di kendaraan, padahal jarak tempuh tidak terlalu jauh. Macet macet macet, asap, asap, asap. Seolah kembali menyapa pada saya.

05.00 WIB, Akhir Desember, Pagi Buta, Hujan Deras, Masih Mengantuk. Saya ada tugas nganter adik ke Sekolah. Meski bel masuk jam 06.45, dan jarak tempuh rumah – sekolah tidak begitu jauh, tapi kita tak mau ambil resiko. Melihat Jakarta yang tak pernah punya ampun dengan kemacetannya. Akhirnya meluncurlah kita menembus hujan pagi itu. Baru sampai di jalan utama, kendaraan udah “stuck” dan tidak berjalan. Mulailah kesabaran saya diuji. Mulai liat jam. Mulai gelisah. Hampir satu jam saya dan adik terjebak dalam suasana yang agak membosankan.

06.00WIB. Hujan mulai reda dan perlahan terhenti. Namun, diluar sana iklim memanas, mulai terdengar irama sumbang, klakson-klakson kendaraan membisingkan, teriakan “kotor” pengendara yang mulai penat, suara – suara gas kendaraan yang sengaja dibesarkan biar terkesan sok jago dan paling terburu-buru. Semuanya membentuk sebuah nada. Nada kekesalan. Siapa yang mau berlama-lama berteman dengan kemacetan di jalan?  jawabannya : gak ada. Pasti semua ingin cepet sampe. tapi bukan dengan cara semua ingin jadi “raja”, dalam arti semua ingin menjadi yang istimewa, No. 1, yang diagungkan di jalan. Malah seringkali dengan mengatasnamakan kemacetan banyak pengendara melanggar rambu. Yang kadang kali itulah penyebab kemacetan sesungguhnya. Makanya sering kita melihat kecelakaan atau “tabrakan” di jalan. Karena rambu hanya sebagai pajangan saja. Bahkan di berbagai ruas jalan, banyak kendaraan memanfaatkan Bus Way sebagai jalur alternatif selain tol. Memang orang kita selalu saja kreatif kalau sudah berbicara melanggar.

07.00 WIB. Akhirnya sampai di sekolah. Telat 15 menit. Padahal kami sudah merencanakan dari awal untuk berangkat pagi buta, rupanya belum menolong. Mungkin karena faktor cuaca, gumam saya menenangkan diri. Uji kesabaran saya belum selesai, dalam perjalanan menuju rumah, tibalah saya di jembatan dekat perguruan tinggi swasta di kawasan Jakarta timur. Jembatan yang kecil. Jalan menyempit. Dua jalur jalan dipadati oleh kendaraan bermotor dari jalur sebaliknya, sampai berhenti total. Saya coba berjalan pelan mengikuti mobil di depan. Ketika sampai di tengah jembatan, motor dari berlawanan arah dalam kondisi macet sempat menyelip saya, dan akhirnya menyerempet mobil saya. Saya buka kaca untuk melihat keadaan. Lalu sang penyerempet itu memaki dan mengatakan perkataan yang tidak pantas. Lalu saya menutup kaca dan melanjutkan perjalanan. Percuma dilayani. Sampai rumah saya periksa keadaan mobil, lumayan parah, harus di ketok magic. Dan yang pasti tanggung jawab ke orang tua.

Dari dua jam perjalanan ini saya melihat banyak orang saling serobot bahkan sampai menghalalkan menerobos lampu merah dan melanggar rambu lainnya, berputar di tempat yang tidak boleh berputar, bahkan memaksakan untuk menjadi yang paling duluan, dan akhirnya emosi dan amarah adalah senjata untuk menutupi kesalahan. Sebuah sifat yang jauh dari pribadi bangsa kita, pribadi yang ramah tamah. Namun terbukti tidak untuk dijalanan. Semua jadi saling sikut saling tindih. Juaranya adalah yang paling bisa membalap lawannya dengan kecepatan. Bak pembalap di lintasan sirkuit.

Lalu timbulah di benak saya stigma negatif yang kental. Para pemakai jalan, terutama di jakarta jauh dari kesan “ramah di jalan”, bahkan terkesan mereka adalah gabungan dari pembalap dan preman sekaligus. Itu di mata saya. Memang terkesan subyektif. Tapi begitulah adanya. Ketika kita sulit untuk menyeberang di jalan raya karena tingkah para pengendara kendaraan, terlebih motor yang tidak mau memperlambat laju kendaraannya. Ketika di kanan kiri kita sering melihat kecelakaan. Dan diakhiri dengan baku hantam. Lengkap sudah. Pembalap, Preman, dan Petinju pula. “Jagoan” yang lengkap.

Minggu, 15 Mei 2009. Pagi yang bersahabat. Stigma itu buyar ketika saya bersama teman – teman Komunitas Jelajah Budaya mengikuti sebuah acara rutin yang diselenggarakan KJB setiap bulannya, di kawasan kota tua, Jakarta Barat. Tour De Oud Batavia Van Onthel, yaitu Wisata Sejarah dengan Sepeda Onthel Keliling Kota Tua, dengan rute Museum Bank Mandiri – Toko Merah – Gedung Geo Wehry – Stasiun Barang Kampoeng Bandan – Pelabuhan Soenda Kelapa – Jembatan Kota Intan – Taman Fatahilah – Museum Bank Mandiri. Keliling dengan Sepeda Onthel sewaan sambil tetap tertib berkendara memang sangat menyenangkan. Tidak masalah meski di bawah matahari yang tak lelah menyinari. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh, namun kaki serasa tidak ada lelahnya “mengonthel”. Raleigh Dames, sepeda onthel tunggangan saya siang itu cukup membuat puas. Mengajak berkeliling melihat “keantikan” kota tua yang masih terjaga. Lengkap dengan segala atribut pemanisnya.

Keramahtamahan juga muncul dari para pengendara mobil dan motor yang melintasi iring-iringan Kami. Mereka memberi kita jalan, tanpa amarah. Dengan senyum. Simpatik. Tidak ada saling sikut, ingin duluan, sok jagoan. Buang jauh-jauh. Pendam dalam tanah bila perlu.

Banyak pelajaran yang dipetik dalam beberapa jam berkumpul, berkendara onthel sambil berwisata sejarah serta kuliner disana. Keliling kota dengan ramah dan kesederhanaan, diskusi yang hangat, mendapatkan banyak pengetahuan sejarah, sungguh pengalaman yang mahal. Dan yang paling penting, di hari itu saya mendapat pelajaran berharga, 3 R, yaitu Ramah Berkendara, Ramah Lingkungan, dan Ramah Ilmu.

SALAM CINTA INDONESIA :-D

Mejeng di Pelabuhan Sunda Kelapatouring-tigajembatan-intan

Comments

5 Responses to “3 R : Ramah Berkendara, Ramah Lingkungan, Ramah Ilmu”
  1. fr3y says:

    Wahhh sebagai pengguna rutin jalanan yang macet pas mau pergi dan pulang kerja, bener banget artikelnya kalo jakarta sekarang udah kayak ajang sirkus ibukota…
    Mungkin perlu satu lagi yang ditambahin dari R nya..Ramah sama sesama…hehehe

  2. Carbudit says:

    Hmmm sebagai mantan penghuni Jakarta saya juga turut merasakan perubahan yang luar biasa signifikan pada kongesti kendaraan disana. Mobil dan motor semakin merajalela padahal jalan tidak semakin bertambah karena lahannya memang telah sempit. Bayangkan jalan bebas hambatan aka tol di Jakarta pun kini telah terkena macet. Jalanan Pondok Kelapa yang dulu pernah saya ‘mbaureksoi’ dan saya kenal lancar sekarang juga padat merayap.

    Jakarta memang luar biasa (macetnya). Hmmmm kayanya Indonesia butuh ibukota baru nih kalo kaya begini hehehe…

  3. dian says:

    Eh, Ryan menaiki sepeda itu jadi tampak semakin seperti orang pinter. Eh, kamu ikut wisata kota tua dalam rangka nyari jodoh juga kan? Hehehe…
    *bukan orang Jakarta, makanya nggak komen tentang panasnya Jakarta*

  4. Dyah Pitaloka says:

    Ryan…my God, are you OK?! Hehe…aku setuju dengan temen2 di jakarta yang pada bike to work… itu bisa mengurangi polusi, menjaga lingkungan tetap sehat, dan juga bikin kita tambah sehat. Jika di week end aktivitas ini tetap dilakukan sambil berwisata di seputar Jakarta…aku yakin, Jakarta bisa menjadi lebih ‘muda’…kamu juga! karena sehat dan bugar…sekian, matur nuwun, pareng…

  5. Wow, penasehat kita akhirnya datang juga..welcome sist..usul apa lagi nich buat gempita??

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!