Society For All
“Nothing About Us Without Us”
Once again, I had an oppurtunity to be involved in a training in Bangkok which was organized by APCD and JICA. It was a little bit different from the first training that I had attended. This time, the participants of the training were not only people with disabilities but also people without disabilities whom are workers of Community Based Rehabilitation programs in the Asia Pacific Region.
As a Sign language interpreter for Fachri Siradz from Sehjira Foundation and as a representative of Gempita (Sehjira’s partner), I have gained more knowledge about the importance of working with and in the community level. Why in the community? Because sometimes we forget that we are all belongs to a community and this way of thinking make us tend to make plans with a very high expectation, such as : changing the rules and changing this world. But in order to achieve it, we often neglect the steps that we should have taken to achieve our big goal.
Community Based Rehabilitation (CBR) believes that in order to change the world, firstly and more importantly we have to try from a very basic level, grass root level, changing the mindset of our own community and the people who lived in it. Even though it seems to be very easy to understand, the implementation of this value may have some barriers.
One of the biggest barrier that might occurred is the self-determination of a person with disabilities themselves. Therefore, working closely with Independent Living Movement (ILM) has made a very significant evolution of CBR’s.
CBR may be defined, according to three United Nation Agencies, ILO, UNESCO, and the WHO, as a “strategy within community development for the rehabilitation, equalization of opportunities, and social integration of all people with disabilities. CBR is implemented through the combined efforts of disabled people themselves, their families and communities, and the appropriate health, education, vocational and social services” (WHO, 1994)
And as for the definition of independent living:
Independent living, as seen by its advocates, is a philosophy, a way of looking at disability and society, and a worldwide movement of people with disabilities who proclaim to work for self-determination, self-respect and equal opportunities (http://en.wikipedia.org/wiki/Independent_living)
Nothing About Us Without Us- this slogan represent the idea that no programs about disability should be decided without a full and direct participation of a person with disability themselves. That idea is very acceptable, no one knows better about disability issue rather than person with disability.
Have we ever wonder? How many person with disabilities in our neighboring community have been locked in their own home or being institutionalized?
It’s a very sad to say that all around the world, we could still find cases like this in almost every country. The reasons for this action could be vary: overprotective family, less of awareness and knowledge from the community, prejudice form the society, and so on.
We all aware that the greatest misery for a human being is when someone feels unwanted, unloved, and uncared. So, maybe that is the reason, why no one wants to live in an institution; everyone has a right to live in their community, with the people who will accept and truly love us no matter what.
In this life we cannot do great things. We can only do small things with great love.
-Mother Teresa-
Even a prominent figure like Mother Teresa acknowledges her capacity and her limitation in changing the world in a second. Or maybe She truly understand that in order to change the world, it’s more than necessary to change the people and their community first.
I believe those core values that CBR’s and ILM programs have been trying to promote is a very essential step to achieve a bigger goal in order to create a society for all.
Society for All
What is society for all?
In my opinion, There is an invisible line which can be called a normality line that the majority or rule makers have drawn in our society. This line will automatically makes boundaries and divide the society into two definitions of human life = normal and abnormal. This line clearly separates the one that is right in a normal form and the one that is not.
When we are trapped in this point of view, we will see that:
- When you are person with disabilities then you are abnormal.
- When you are a person who has different opinion with the majority then you are wrong.
- When you are a person who has different sexual orientation with the majority then you are abnormal.
- When you make a living in different ways as the majority then you are wrong
- When you live below the standard form of normality line then you are abnormal.
- When you believe in a religion that is different with the majority religion in your society then you are wrong.
If we keep this way of thinking, there is no way we can achieve a society for all.
- When we keep on judging others’ value then we will not have enough time to love them just the way they all are.
- If we keep on judging that I am right and you are wrong; don’t be surprised if riots, wars, protests will still be in our society.
- If we always search for differences, we will hardly find the beauty of diversity.
I don’t know about what you believed in and I won’t judging ; but as for me, I don’t want to be remembered as someone who is contributing in making barriers. I would like to see many colours in my paintings. So I don’t think that I could accept the idea that this world is only divided into two words: Normal and abnormal.
And if you are agree with me, lets sail away to create a better world. Make a little contribution in our own community, give some space, more opportunities, more hope for the under privilege people in marginalized sectors to grab their dreams, to fulfilled their rights as human being and as a part of the community in the world we live in.
We don’t have to do big things;
Maybe we could start from a very simple way…
Just give a little of your times , who knows?? maybe they can turn your world around or even better we can change this world around..
Special thanks to : my Gempita’s partner and Sehjira Foundation
Bisikan Cita Merah-Putih
Pijar semesta warna
Di tengah himpitan tangan-tangan rakus kuasa
Di antara suara-suara berteriak inginkan gedung baru
Di hadapan hamparan senja
Di tepian keindahan panorama sampah-sampah berserak selimuti kota
Di samping sosok-sosok gundah sayap-sayap patah indonesiaku
Aku bersaksi
Akan datang pembaharu dari tanah gersang ini
Berlari mengejar mimpi
Bersama udara-udara kematian yang melanda
Bersama penyakit-penyakit kronis yang mendera garudaku
Disaksikan energi langit dan jutaan bintang-bintang
yang cahayanya mati teredam
Mari Bangkit Pemuda Bangsa!!!
Jangan Terpuruk dan lalu Tenggelam
Selamatkan Keadilan!
Wujudkan Kedamaian!
Karena Kita Bisa
Pasti Bisa!!
(Renungan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2010)
Menjadi Bahagia
Setiap orang pasti punya banyak keinginan; ingin punya mobil, ingin langsing ingin gaji besar, ingin ini; ingin itu dan ingin ingin yang lainnya, tapi apa reaksi kita ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi? kita semua pasti akan menjawab sama ‘KECEWA’ kita akan merasa susah selamanya.
Lalu bagaimana jika keinginan tersebut terpenuhi? maka kita akan merasa senang.
Seorang teman dikantor sudah seminggu ini uring uringan karena keinginannya untuk mendapat bonus tahunan tidak terpenuhi, dia merasa sebagai karyawan yang terzolimi dan sebagai karyawan paling sengsara. Dia melihat bahwa kami, teman temannya yang mendapatkan bonus dianggap selalu merasa senang diatas penderitaannya. Saya pun sempat berpikir bahwa teman yang mendapatkan bonus terbesar pasti yang merasa paling senang.
tapi betulkah begitu?
Setelah dipikir pikir, sepertinya tidak seperti itu juga, buktinya teman saya yang saya ketahui mendapat bonus cukup besar, terlihat muram mukanya, dia tidak seceria yang dulu dan ternyata itu karena konsekuensi dari bonus yang diterimanya. Apa yang didapat tentu saja harus sesuai dengan yang dihasilkan dan konsekuensinya dia harus bekerja lebih ‘berat’ dibandingkan temannya yang lain.
Dari apa yang saya alami tersebut, saya menyadari bahwa belum tentu ketika keinginan kita tercapai maka kita akan bahagia, karena mungkin akan muncul konsesukensi dari hal yang kita capai tersebut. Timbul pertanyaan dalam benak saya, bagaimana supaya kita bisa selalu merasa senang? ada yang bilang kuncinya adalah bersyukur, apapun yang kita dapat hari ini atau apapun yang terjadi pada kita adalah karunia, selalu ada hikmah di dalamnya, jadi kita harus mensyukuri apa yang telah kita dapat baik itu kesenangan ataupun kesulitan.
Saya masih saja berpikir, selain bersyukur apa lagi yang bisa kita lakukan untuk merasa bahagia? karena bersyukur tetap saja bagi saya masih terlalu abstrack.
Saya coba menganalisa, mungkin kalau kita tidak punya keinginan maka kita juga tidak akan merasa kecewa atau susah karena tidak ada yang perlu kita kejar. Jadi kita juga tidak akan merasa susah ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi karena toh kita memang tidak punya keinginan.
Tapi pertanyaan selanjutnya adalah lalu apa sumber rasa senang kita jika kita tidak punya keinginan? saya kembali menganalisa mungkin analisa saya tidak terlalu tepat.
Tiba tiba terlintas dalam benak saya, mungkinkah dengan kita memahami apa keinginan kita, maka kita akan lebih tentram dan lebih bahagia? kita bisa senang dan kita juga bisa merasa susah. Susah senang tersebut adalah bergantian, kita tidak bisa merasa bahagia bila kita tidak tahu rasanya susah. Jadi, kita tidak perlu gentar bila keinginan kita tidak tercapai. Toh kita hanya akan susah sebentar, dan akan kembali senang karena keinginan lain yang terpenuhi. Betul begitu?
Akhirnya apa yang terlintas dalam pikiran saya tersebut dikuatkan juga oleh sebuah tulisan dari M.M Nilam Widyarini, MSi, seoarang kandidat doktor psikologi, tentang Bahagia = memiliki rasa yang benar. Dalam artikel tersebut dijelaskan tentang sumber bahagia menurut Ki Ageng Suryomentaram seoarang psikolog Jawa.
Menurutnya, Kita dapat mengalami surga tabah/tatag dan memiliki rasa tenteram bila memahami bagaimana keinginan-keinginan yang bersifat mulur–mungkret (berkembang-menyusut). Beliau juga menjelaskan tentang rasa hidup yang benar, Bahwa Rasa hidup yang benar adalah rasa hidup seseorang yang merasa sebentar senang dan sebentar susah.
Rasa hidup yang benar dapat dialami bila seseorang bertindak sesuai dengan 6-sa: sapenake, sabutuhe, saperlune, sacukupe, samestine, dan sabenere. Bila kita dalam bertindak berpegang pada prinsip tersebut (dengan enak, sesuai kebutuhan, seperlunya, secukupnya, semestinya, dan sebenar-benarnya), kita dapat memiliki rasa hidup yang benar: sebentar senang, sebentar susah.
Hal lain yang menarik dari penjelasan Ki Ageng Suryomentaram adalah pembahasannya tentang rasa iri dan sombong. sebagai manusia tentu saja kita juga tidak lepas dari rasa sombong dan iri.
Penderitaan iri dan sombong Menurut Ki Ageng Suryomentaram adalah apabila seseorang mengerti bahwa rasa orang sedunia sama saja maka bebaslah ia dari penderitaan iri hati dan sombong, kemudian dapat masuk surga ketenteraman. Dalam segala hal ia bertindak sesuai dengan prinsip 6-sa yang telah dijelaskan di atas.
Mungkin begini menjelasannya, Orang yang iri ingin lebih unggul dari orang lain. Meski ia memakai pakaian bagus, punya rumah indah, dan sebagainya, bila ada orang lain yang lebih unggul, ia tidak dapat merasakan bahwa pakaiannya bagus. Ia merasa ada yang kurang. Demikian pula orang yang sombong, ia selalu merasa lebih unggul daripada orang lain.Jadi meski ia sudah punya sesuatu yang berharga (dapat membuat rasa senang, dapat membuat rasa kenyang, dan sebagainya), ia tidak dapat merasa senang karena masih menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain.
Lalu apa kesimpulannya? Untuk menjadi bahagia maka kita harus memiliki rasa yang benar bahwa hidup memang sebentar susah dan sebentar senang. Untuk menjadi tenteram maka kita perlu memahami bahwa sesunggguhnya semua orang adalah sama.




