Log In Registration

Archive for the ‘Peduli diri sendiri’ Category

Menjadi Bahagia

happiness_by_wint3r88

Setiap orang pasti punya banyak keinginan; ingin punya mobil, ingin langsing ingin gaji besar, ingin ini; ingin itu dan ingin ingin yang lainnya, tapi apa reaksi kita ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi? kita semua pasti akan menjawab sama ‘KECEWA’ kita akan merasa susah selamanya.

Lalu bagaimana jika keinginan tersebut terpenuhi? maka kita akan merasa senang.

Seorang teman dikantor sudah seminggu ini uring uringan karena keinginannya untuk mendapat bonus tahunan tidak terpenuhi, dia merasa sebagai karyawan yang terzolimi dan sebagai karyawan paling sengsara. Dia melihat bahwa kami, teman temannya yang mendapatkan bonus dianggap selalu merasa senang diatas penderitaannya. Saya pun sempat berpikir bahwa teman yang mendapatkan bonus terbesar pasti yang merasa paling senang.
tapi betulkah begitu?
Setelah dipikir pikir, sepertinya tidak seperti itu juga, buktinya teman saya yang saya ketahui mendapat bonus cukup besar, terlihat muram mukanya, dia tidak seceria yang dulu dan ternyata itu karena konsekuensi dari bonus yang diterimanya. Apa yang didapat tentu saja harus sesuai dengan yang dihasilkan dan konsekuensinya dia harus bekerja lebih ‘berat’ dibandingkan temannya yang lain.

Dari apa yang saya alami tersebut, saya menyadari bahwa belum tentu ketika keinginan kita tercapai maka kita akan bahagia, karena mungkin akan muncul konsesukensi dari hal yang kita capai tersebut. Timbul pertanyaan dalam benak saya, bagaimana supaya kita bisa selalu merasa senang? ada yang bilang kuncinya adalah bersyukur, apapun yang kita dapat hari ini atau apapun yang terjadi pada kita adalah karunia, selalu ada hikmah di dalamnya, jadi kita harus mensyukuri apa yang telah kita dapat baik itu kesenangan ataupun kesulitan.

Saya masih saja berpikir, selain bersyukur apa lagi yang bisa kita lakukan untuk merasa bahagia? karena bersyukur tetap saja bagi saya masih terlalu abstrack.

Saya coba menganalisa, mungkin kalau kita tidak punya keinginan maka kita juga tidak akan merasa kecewa atau susah karena tidak ada yang perlu kita kejar. Jadi kita juga tidak akan merasa susah ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi karena toh kita memang tidak punya keinginan.

Show “Menjadi Bahagia”

18.442 orang terinfeksi HIV di Indonesia, what can we do now?

Entah berapa 1 Desember yang sudah kita lewati bersama-sama. Sedihnya, setiap tanggal 1 Desember kita masih terus disuguhi bertambahnya angka orang yang terpapar HIV.

Yang paling menyedihkan adalah, bukan cuma mereka yang dewasa dan memiliki tanggung jawab penuh atas perilakunya saja yang memiliki resiko tertular. Bahkan istri yang tidak pernah berhubungan seksual dengan orang lain selain suaminya, ternyata juga banyak ditemukan tertular HIV. Tanpa maksud mencari siapa yang salah dan siapa yang terkalahkan, tapi fakta bahwa HIV menjadi semakin common dalam kehidupan kita saat ini, harus mulai disadari bersama-sama.

peduli-aids1

Di Indonesia, ada 6 propinsi yang dinyatakan sebagai propinsi terkonsentrasi HIV, dimana jumlah orang terpapar HIV sudah mencapai angka lebih dari 5% dari jumlah penduduknya. Propinsi tersebut adalah, Papua, DKI Jakarta, Riau, Bali, Jawa Timur dan Jawa Barat. Yang berada di luar propinsi itu, tidak disarankan untuk langsung berdiri dan bersorak, karena – sekali lagi – fenomena gunung es masih berlaku dalam kasus HIV ini. Sementara teman-teman yang tinggal di enam propinsi tersebut, disarankan untuk segera mengetahui status HIV-nya. Positif ataukah negatif.

Saya ingat punya seorang teman yang pernah bekerja untuk HIV di sub saharan Afrika. Dia cerita kalau di sana setiap orang pernah berinteraksi dekat dengan ODHA, atau banyak juga diantaranya yang ODHA. Contoh gampangnya gini nih,

* Adik saya ODHA
* Saya baru saja menolong persalinan seorang ODHA, untunglah anaknya negatif
* Satu lagi kasus ODHA dikeluarkan dari pekerjaan di kantor saya
* Ibu saya ODHA padahal dia tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain selain ayah saya. Ayah saya sendiri meninggal setahun lalu karena TBC,

Pernyataan-pernyataan seperti di atas itu dan padanannya mudah sekali ditemukan di Afrika. Hal serupa bisa saja terjadi di Indonesia, kalau kita tidak mencegahnya. Saat ini jumlah orang yang terinfeksi HIV 18.442 orang (Data Dinkes Sep 09), diperkirakan tahun 2010 nanti jumlahnya bisa mencapai 130 ribu orang. Wah, kok meledak sekali? Bukan meledak, tapi angka yang sesungguhnya memang kadang tidak terungkap.

Show “18.442 orang terinfeksi HIV di Indonesia, what can we do now?”

HATI..hati-hati

Meskipun sambil nonton debat Capres yang katanya semakin seru, saya sama sekali gak mau nulis tentang itu. Udah banyak yang nulis sepertinya.Kali ini saya hendak membuat praduga bahwa perilaku atau sikap kita itu ditularkan dan menular ke orang lain.

Saya mengambil kesimpulan dari pengalaman pribadi, ketika pada Sabtu pagi, jalanan di Jakarta cukup lenggang dan saya menyetir sendirian. “mmhh enak juga jalan-jalan kalo gak macet”, itu kira-kira yang ada di pikiran saya ketika itu sambil mengendarai secara santai.

Tiba-tiba dari arah belakang, ada sebuah mobil yang terus menerus mengklakson saya, saya sampai heran kenapa ya tuch orang? akhirnya mobil itu berhasil melewati saya setelah berkali-kali membunyikan klaksonnya yang sama sekali tidak bernada. Dengan agak kesal dengan kelakuannya, ketika mobilnya menyalip saya membunyikan klakson juga sebagai tanda protes…yapp, buyarlah lamunan saya tentang Sabtu pagi yang ceria.

Indikator kedua, pulang kerja dengan mengendarai motor. Saya berhenti di perempatan karena lampu lalu lintas masih merah. Namun motor-motor yang lain, beserta mobil-mobil di belakang saya sepertinya tidak rela melihat ketenangan saya menikmati lampu merah. Klakson-klakson segera berbunyi, saya seperti diajak bersama-sama melanggar lampu merah. akhirnya saya terobos juga dan terjadilah pelanggaran kolektif yang biasa terjadi di negeri ini, gak heran ya dalam kasus korupsi, satu yang ketangkap yang keseret banyak ;-)

Kejadian selanjutnya hampir mirip dengan tragedi lampu merah, dengan niat yang kali ini tidak mau tergoda untuk melakukan pelanggaran, saya kembali berhenti di lampu merah. Tapi memang menuruti aturan berat sekali tantangannya, kali ini saya diklakson Metromini yang kira-kira 10 cm lagi akan menabrak saya.

Nah, bagaimana menurut teman-teman? Benar gak hipotesis saya? Ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu hal dan dilihat orang lain atau diketahui orang lain. Hampir pasti banyak yang mengikuti. Saya membayangkan kalo ketidaksabaran, kemarahan, kedengkian, seperti semacam virus-virus yang berterbangan di udara. Jadi, kita sepertinya harus waspada. Hati dan badan bisa terkontaminasi oleh lingkungan dan seperti orang yang gak mau terkena flu, hal yang paling utama untuk dijaga adalah kekebalan tubuh.

Show “HATI..hati-hati”

Free WordPress Themes Design by New WordPress Themes | Thanks to Insurance and Home Insurance