Menjadi Bahagia
Setiap orang pasti punya banyak keinginan; ingin punya mobil, ingin langsing ingin gaji besar, ingin ini; ingin itu dan ingin ingin yang lainnya, tapi apa reaksi kita ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi? kita semua pasti akan menjawab sama ‘KECEWA’ kita akan merasa susah selamanya.
Lalu bagaimana jika keinginan tersebut terpenuhi? maka kita akan merasa senang.
Seorang teman dikantor sudah seminggu ini uring uringan karena keinginannya untuk mendapat bonus tahunan tidak terpenuhi, dia merasa sebagai karyawan yang terzolimi dan sebagai karyawan paling sengsara. Dia melihat bahwa kami, teman temannya yang mendapatkan bonus dianggap selalu merasa senang diatas penderitaannya. Saya pun sempat berpikir bahwa teman yang mendapatkan bonus terbesar pasti yang merasa paling senang.
tapi betulkah begitu?
Setelah dipikir pikir, sepertinya tidak seperti itu juga, buktinya teman saya yang saya ketahui mendapat bonus cukup besar, terlihat muram mukanya, dia tidak seceria yang dulu dan ternyata itu karena konsekuensi dari bonus yang diterimanya. Apa yang didapat tentu saja harus sesuai dengan yang dihasilkan dan konsekuensinya dia harus bekerja lebih ‘berat’ dibandingkan temannya yang lain.
Dari apa yang saya alami tersebut, saya menyadari bahwa belum tentu ketika keinginan kita tercapai maka kita akan bahagia, karena mungkin akan muncul konsesukensi dari hal yang kita capai tersebut. Timbul pertanyaan dalam benak saya, bagaimana supaya kita bisa selalu merasa senang? ada yang bilang kuncinya adalah bersyukur, apapun yang kita dapat hari ini atau apapun yang terjadi pada kita adalah karunia, selalu ada hikmah di dalamnya, jadi kita harus mensyukuri apa yang telah kita dapat baik itu kesenangan ataupun kesulitan.
Saya masih saja berpikir, selain bersyukur apa lagi yang bisa kita lakukan untuk merasa bahagia? karena bersyukur tetap saja bagi saya masih terlalu abstrack.
Saya coba menganalisa, mungkin kalau kita tidak punya keinginan maka kita juga tidak akan merasa kecewa atau susah karena tidak ada yang perlu kita kejar. Jadi kita juga tidak akan merasa susah ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi karena toh kita memang tidak punya keinginan.
Tapi pertanyaan selanjutnya adalah lalu apa sumber rasa senang kita jika kita tidak punya keinginan? saya kembali menganalisa mungkin analisa saya tidak terlalu tepat.
Tiba tiba terlintas dalam benak saya, mungkinkah dengan kita memahami apa keinginan kita, maka kita akan lebih tentram dan lebih bahagia? kita bisa senang dan kita juga bisa merasa susah. Susah senang tersebut adalah bergantian, kita tidak bisa merasa bahagia bila kita tidak tahu rasanya susah. Jadi, kita tidak perlu gentar bila keinginan kita tidak tercapai. Toh kita hanya akan susah sebentar, dan akan kembali senang karena keinginan lain yang terpenuhi. Betul begitu?
Akhirnya apa yang terlintas dalam pikiran saya tersebut dikuatkan juga oleh sebuah tulisan dari M.M Nilam Widyarini, MSi, seoarang kandidat doktor psikologi, tentang Bahagia = memiliki rasa yang benar. Dalam artikel tersebut dijelaskan tentang sumber bahagia menurut Ki Ageng Suryomentaram seoarang psikolog Jawa.
Menurutnya, Kita dapat mengalami surga tabah/tatag dan memiliki rasa tenteram bila memahami bagaimana keinginan-keinginan yang bersifat mulur–mungkret (berkembang-menyusut). Beliau juga menjelaskan tentang rasa hidup yang benar, Bahwa Rasa hidup yang benar adalah rasa hidup seseorang yang merasa sebentar senang dan sebentar susah.
Rasa hidup yang benar dapat dialami bila seseorang bertindak sesuai dengan 6-sa: sapenake, sabutuhe, saperlune, sacukupe, samestine, dan sabenere. Bila kita dalam bertindak berpegang pada prinsip tersebut (dengan enak, sesuai kebutuhan, seperlunya, secukupnya, semestinya, dan sebenar-benarnya), kita dapat memiliki rasa hidup yang benar: sebentar senang, sebentar susah.
Hal lain yang menarik dari penjelasan Ki Ageng Suryomentaram adalah pembahasannya tentang rasa iri dan sombong. sebagai manusia tentu saja kita juga tidak lepas dari rasa sombong dan iri.
Penderitaan iri dan sombong Menurut Ki Ageng Suryomentaram adalah apabila seseorang mengerti bahwa rasa orang sedunia sama saja maka bebaslah ia dari penderitaan iri hati dan sombong, kemudian dapat masuk surga ketenteraman. Dalam segala hal ia bertindak sesuai dengan prinsip 6-sa yang telah dijelaskan di atas.
Mungkin begini menjelasannya, Orang yang iri ingin lebih unggul dari orang lain. Meski ia memakai pakaian bagus, punya rumah indah, dan sebagainya, bila ada orang lain yang lebih unggul, ia tidak dapat merasakan bahwa pakaiannya bagus. Ia merasa ada yang kurang. Demikian pula orang yang sombong, ia selalu merasa lebih unggul daripada orang lain.Jadi meski ia sudah punya sesuatu yang berharga (dapat membuat rasa senang, dapat membuat rasa kenyang, dan sebagainya), ia tidak dapat merasa senang karena masih menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain.
Lalu apa kesimpulannya? Untuk menjadi bahagia maka kita harus memiliki rasa yang benar bahwa hidup memang sebentar susah dan sebentar senang. Untuk menjadi tenteram maka kita perlu memahami bahwa sesunggguhnya semua orang adalah sama.
18.442 orang terinfeksi HIV di Indonesia, what can we do now?
Entah berapa 1 Desember yang sudah kita lewati bersama-sama. Sedihnya, setiap tanggal 1 Desember kita masih terus disuguhi bertambahnya angka orang yang terpapar HIV.
Yang paling menyedihkan adalah, bukan cuma mereka yang dewasa dan memiliki tanggung jawab penuh atas perilakunya saja yang memiliki resiko tertular. Bahkan istri yang tidak pernah berhubungan seksual dengan orang lain selain suaminya, ternyata juga banyak ditemukan tertular HIV. Tanpa maksud mencari siapa yang salah dan siapa yang terkalahkan, tapi fakta bahwa HIV menjadi semakin common dalam kehidupan kita saat ini, harus mulai disadari bersama-sama.

Di Indonesia, ada 6 propinsi yang dinyatakan sebagai propinsi terkonsentrasi HIV, dimana jumlah orang terpapar HIV sudah mencapai angka lebih dari 5% dari jumlah penduduknya. Propinsi tersebut adalah, Papua, DKI Jakarta, Riau, Bali, Jawa Timur dan Jawa Barat. Yang berada di luar propinsi itu, tidak disarankan untuk langsung berdiri dan bersorak, karena – sekali lagi – fenomena gunung es masih berlaku dalam kasus HIV ini. Sementara teman-teman yang tinggal di enam propinsi tersebut, disarankan untuk segera mengetahui status HIV-nya. Positif ataukah negatif.
Saya ingat punya seorang teman yang pernah bekerja untuk HIV di sub saharan Afrika. Dia cerita kalau di sana setiap orang pernah berinteraksi dekat dengan ODHA, atau banyak juga diantaranya yang ODHA. Contoh gampangnya gini nih,
* Adik saya ODHA
* Saya baru saja menolong persalinan seorang ODHA, untunglah anaknya negatif
* Satu lagi kasus ODHA dikeluarkan dari pekerjaan di kantor saya
* Ibu saya ODHA padahal dia tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain selain ayah saya. Ayah saya sendiri meninggal setahun lalu karena TBC,
Pernyataan-pernyataan seperti di atas itu dan padanannya mudah sekali ditemukan di Afrika. Hal serupa bisa saja terjadi di Indonesia, kalau kita tidak mencegahnya. Saat ini jumlah orang yang terinfeksi HIV 18.442 orang (Data Dinkes Sep 09), diperkirakan tahun 2010 nanti jumlahnya bisa mencapai 130 ribu orang. Wah, kok meledak sekali? Bukan meledak, tapi angka yang sesungguhnya memang kadang tidak terungkap. Jadi kalau sekarang data cuma ada di angka 18 ribu, mungkin jumlah sesungguhnya bisa 10 kali lipat dari itu.
Now the question is, how can we play role in the prevention of HIV infection?
Iya dong, kita harus punya peran untuk mencegah penularan HIV ini. Setia, tidak berhubungan seks atau memakai kondom pasti sudah tahu dong ya? Nah, ada cara lain lagi nggak? Pasti ada.
Kalau memang dalam salah satu fase hidup kita pernah merasa melakukan tindakan yang mengandung resiko terpapar HIV, maka VCT is a must. Ada banyak klinik VCT (tes HIV secara suka rela) di Indonesia ini. Silahkan datang dulu, ngobrol-ngobrol sama konselornya. Nah, sekarang, tindakan apa yang memungkinkan terpapar HIV?
* Berhubungan seks tidak aman
* Bertukar jarum suntik
* Tattoo dan tidak yakin jarumnya baru atau enggak
* Transfusi darah dan tidak yakin jarumnya baru atau enggak
* dst
Nah, sepulang dari VCT, boleh dikatakan kita baru mulai salah satu tahap pencegahan. Kalau ternyata negatif, kita bisa jauh-jauh dari melakukan hal-hal yang beresiko terpapar HIV, kalau ternyata positif, tenangggg… DUNIA BELUM BERAKHIR.
Banyak kelompok dukungan yang bisa membantu kita mendapatkan informasi. Dimana mendapatkan obatnya, gaya hidup seperti apa yang harus kita ikuti, beraktifitas positif bersama-sama akan membuat kita bersemangat lagi. Karena saya punya banyak sekali teman yang terpapar HIV dan mereka sehat-sehat saja, justru jauh lebih aktif ketimbang dulu sebelum mereka mengetahui statusnya. Yang jelas tanggung jawab kita kalau mendapati status positif adalah: tidak menyalahkan siapapun dan tidak berusaha mencari teman dengan menularkan HIV pada orang lain.
HATI..hati-hati
Meskipun sambil nonton debat Capres yang katanya semakin seru, saya sama sekali gak mau nulis tentang itu. Udah banyak yang nulis sepertinya.Kali ini saya hendak membuat praduga bahwa perilaku atau sikap kita itu ditularkan dan menular ke orang lain.
Saya mengambil kesimpulan dari pengalaman pribadi, ketika pada Sabtu pagi, jalanan di Jakarta cukup lenggang dan saya menyetir sendirian. “mmhh enak juga jalan-jalan kalo gak macet”, itu kira-kira yang ada di pikiran saya ketika itu sambil mengendarai secara santai.
Tiba-tiba dari arah belakang, ada sebuah mobil yang terus menerus mengklakson saya, saya sampai heran kenapa ya tuch orang? akhirnya mobil itu berhasil melewati saya setelah berkali-kali membunyikan klaksonnya yang sama sekali tidak bernada. Dengan agak kesal dengan kelakuannya, ketika mobilnya menyalip saya membunyikan klakson juga sebagai tanda protes…yapp, buyarlah lamunan saya tentang Sabtu pagi yang ceria.
Indikator kedua, pulang kerja dengan mengendarai motor. Saya berhenti di perempatan karena lampu lalu lintas masih merah. Namun motor-motor yang lain, beserta mobil-mobil di belakang saya sepertinya tidak rela melihat ketenangan saya menikmati lampu merah. Klakson-klakson segera berbunyi, saya seperti diajak bersama-sama melanggar lampu merah. akhirnya saya terobos juga dan terjadilah pelanggaran kolektif yang biasa terjadi di negeri ini, gak heran ya dalam kasus korupsi, satu yang ketangkap yang keseret banyak
Kejadian selanjutnya hampir mirip dengan tragedi lampu merah, dengan niat yang kali ini tidak mau tergoda untuk melakukan pelanggaran, saya kembali berhenti di lampu merah. Tapi memang menuruti aturan berat sekali tantangannya, kali ini saya diklakson Metromini yang kira-kira 10 cm lagi akan menabrak saya.
Nah, bagaimana menurut teman-teman? Benar gak hipotesis saya? Ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu hal dan dilihat orang lain atau diketahui orang lain. Hampir pasti banyak yang mengikuti. Saya membayangkan kalo ketidaksabaran, kemarahan, kedengkian, seperti semacam virus-virus yang berterbangan di udara. Jadi, kita sepertinya harus waspada. Hati dan badan bisa terkontaminasi oleh lingkungan dan seperti orang yang gak mau terkena flu, hal yang paling utama untuk dijaga adalah kekebalan tubuh.
Masalahnya sekarang, virus ini tidak bisa terdeteksi oleh teknologi kesehatan model apapun dan saya juga tidak yakin ada obatnya kalo stadium sakit ketidakpeduliannya sudah terlalu parah. Tapi saya merasa agak optimis kita bisa melakukan imunisasi sendiri, caranya?
- Sering-sering mengukur suhu badan, apakah kita panas dingin ketika berbuat salah? atau malah bangga karena menjadi pelopor?
- Lakukan rontgen hati, apakah kita sudah cukup ber empati?
- Bila merasa sudah mulai tertular, segera berkonsultasi dengan ahlinya
saya akan membagi sedikit tips untuk meningkatkan kesabaran di Jalan raya ketika virus ketidaksabaran mulai menyerang. Mudah-mudahan bisa berguna atau Lebih baik lagi kalo teman-teman bisa nambahin tips dan tricknya.
Kalo naik mobil : Dengerin musik sambil foto-foto dengan berbagai gaya. kayak gini mungkin contohnya :
(sambil numpang nampang)



Kalo naik motor:
Lihatlah stiker-stiker motor di depan anda, banyak loch yang lucu. Seperti misalnya:
“Hari gini masih oper gigi? cape dech”
“Gak punya gigi? ompong donk”
“Motor matic cuman untuk cowok berlipstick”
“Motor matic yang bonceng harus cantik”
(Bisa ditebak ya ini tentang apa)
Lalu ada lagi sticker motor yang menyentuh seperti:
“Jangan dimaling, motor wakaf”
“Pergi karena kerja, pulang karena Cinta”
atau ada lagi pengendara yang manis tapi sinis stickernya kira-kira gini
” Utamakan Sabar, Lo nabrak gw gampar”
” Jangan iri, gw didikan Rossi”
masih ada yang bisa nambahin? Hehehe
Kesimpulannya, ada yang bilang: Pleassure comes from your external world; happiness comes from within. Jadi apapun yang terjadi, tetap berusaha ceria melihat yang lucu dibalik semua keruwetan. Semua hal selalu kembali ke diri sendiri; mau belajar empati? atau tetep tidak peduli? Mau berusaha meningkatkan kekebalan hati dan diri? atau tetap merasa itu bukan urusan gw?
Saya pastinya berharap semoga virus-virus model yang jahat tidak menyebar terlalu cepat, karena meskipun virus ini tidak membunuh badan tapi ia membunuh hati pelan-pelan…

