Menjadi Bahagia
Setiap orang pasti punya banyak keinginan; ingin punya mobil, ingin langsing ingin gaji besar, ingin ini; ingin itu dan ingin ingin yang lainnya, tapi apa reaksi kita ketika keinginan tersebut tidak terpenuhi? kita semua pasti akan menjawab sama ‘KECEWA’ kita akan merasa susah selamanya.
Lalu bagaimana jika keinginan tersebut terpenuhi? maka kita akan merasa senang.
Seorang teman dikantor sudah seminggu ini uring uringan karena keinginannya untuk mendapat bonus tahunan tidak terpenuhi, dia merasa sebagai karyawan yang terzolimi dan sebagai karyawan paling sengsara. Dia melihat bahwa kami, teman temannya yang mendapatkan bonus dianggap selalu merasa senang diatas penderitaannya. Saya pun sempat berpikir bahwa teman yang mendapatkan bonus terbesar pasti yang merasa paling senang.
tapi betulkah begitu?
Setelah dipikir pikir, sepertinya tidak seperti itu juga, buktinya teman saya yang saya ketahui mendapat bonus cukup besar, terlihat muram mukanya, dia tidak seceria yang dulu dan ternyata itu karena konsekuensi dari bonus yang diterimanya. Apa yang didapat tentu saja harus sesuai dengan yang dihasilkan dan konsekuensinya dia harus bekerja lebih ‘berat’ dibandingkan temannya yang lain.
Dari apa yang saya alami tersebut, saya menyadari bahwa belum tentu ketika keinginan kita tercapai maka kita akan bahagia, karena mungkin akan muncul konsesukensi dari hal yang kita capai tersebut. Timbul pertanyaan dalam benak saya, bagaimana supaya kita bisa selalu merasa senang?
18.442 orang terinfeksi HIV di Indonesia, what can we do now?
Entah berapa 1 Desember yang sudah kita lewati bersama-sama. Sedihnya, setiap tanggal 1 Desember kita masih terus disuguhi bertambahnya angka orang yang terpapar HIV.
Yang paling menyedihkan adalah, bukan cuma mereka yang dewasa dan memiliki tanggung jawab penuh atas perilakunya saja yang memiliki resiko tertular. Bahkan istri yang tidak pernah berhubungan seksual dengan orang lain selain suaminya, ternyata juga banyak ditemukan tertular HIV. Tanpa maksud mencari siapa yang salah dan siapa yang terkalahkan, tapi fakta bahwa HIV menjadi semakin common dalam kehidupan kita saat ini, harus mulai disadari bersama-sama.

Di Indonesia, ada 6 propinsi yang dinyatakan sebagai propinsi terkonsentrasi HIV, dimana jumlah orang terpapar HIV sudah mencapai angka lebih dari 5% dari jumlah penduduknya. Propinsi tersebut adalah, Papua, DKI Jakarta, Riau, Bali, Jawa Timur dan Jawa Barat. Yang berada di luar propinsi itu, tidak disarankan untuk langsung berdiri dan bersorak, karena – sekali lagi – fenomena gunung es masih berlaku dalam kasus HIV ini. Sementara teman-teman yang tinggal di enam propinsi tersebut, disarankan untuk segera mengetahui status HIV-nya. Positif ataukah negatif.
Saya ingat punya seorang teman yang pernah bekerja untuk HIV di sub saharan Afrika. Dia cerita kalau di sana setiap orang pernah berinteraksi dekat dengan ODHA, atau banyak juga diantaranya yang ODHA.
Show “18.442 orang terinfeksi HIV di Indonesia, what can we do now?”
HATI..hati-hati
Meskipun sambil nonton debat Capres yang katanya semakin seru, saya sama sekali gak mau nulis tentang itu. Udah banyak yang nulis sepertinya.Kali ini saya hendak membuat praduga bahwa perilaku atau sikap kita itu ditularkan dan menular ke orang lain.
Saya mengambil kesimpulan dari pengalaman pribadi, ketika pada Sabtu pagi, jalanan di Jakarta cukup lenggang dan saya menyetir sendirian. “mmhh enak juga jalan-jalan kalo gak macet”, itu kira-kira yang ada di pikiran saya ketika itu sambil mengendarai secara santai.
Tiba-tiba dari arah belakang, ada sebuah mobil yang terus menerus mengklakson saya, saya sampai heran kenapa ya tuch orang? akhirnya mobil itu berhasil melewati saya setelah berkali-kali membunyikan klaksonnya yang sama sekali tidak bernada. Dengan agak kesal dengan kelakuannya, ketika mobilnya menyalip saya membunyikan klakson juga sebagai tanda protes…yapp, buyarlah lamunan saya tentang Sabtu pagi yang ceria.
Indikator kedua, pulang kerja dengan mengendarai motor. Saya berhenti di perempatan karena lampu lalu lintas masih merah. Namun motor-motor yang lain, beserta mobil-mobil di belakang saya sepertinya tidak rela melihat ketenangan saya menikmati lampu merah. Klakson-klakson segera berbunyi, saya seperti diajak bersama-sama melanggar lampu merah.
