RSS feed for comments on this post.
The URL to TrackBack this entry is: http://gempita.org/peduli-diri-sendiri/18-442-orang-terinfeksi-hiv-di-indonesia-what-can-we-do-now/trackback/
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
0.314 Powered by WordPress
Kemarin di Berita saya lihat demo orang2 yang menolak untuk memakai kondom sebagai salah satu pencegahan HIV, menurut mereka tidak sesuai dengan norma ketimuran kita..Gmana Tuch??
Comment by Frenia Nababan — 1 December 2009 @ 10:37 am
Wah, norma ketimuran yang mana nih? Yang nggak mau memakai kondom tapi tetap memakai jasa pekerja seks komersil? Hehe… Saya bingung dengan orang-orang yang mempertahankan ‘norma’ ketimuran maupun kebaratan atau keutaraan.
FYI, di Indonesia jumlah laki-laki yang pergi berbelanja seksual tahun ini mencapai angka 3,3 juta orang. Sementara tingkat penjualan kondom hanya naik 1,3 % dari tahun lalu. Nah lho, kalau katanya ‘norma’ yang dijunjung tinggi, mestinya angka 3,3 juta itu tidak sebesar itu dong?
Sekarang kan angka pemakai jasa seksual sudah setinggi itu, ya udah, tinggalkan ‘norma’ ketimuran, dan ikuti gaya hidup sehat.
Haduh… kok panjang ya jawabannya.
Comment by dian — 1 December 2009 @ 10:43 am
Percayalah kita berdiri di sisi yang sama,,,Tapi yang jadi PR adalah gmana ya mengedukasi masyarakat yang masih menganggap membagikan kondom, membicarakan seks adalah hal yang tabu. Padahal realita disekitar kita berbicara lain…Ada ide??
Comment by Frenia Nababan — 1 December 2009 @ 10:47 am
Hehehe… pastinya kita berdiri di sisi yang sama. otherwise I won’t write this posting.
Ide saya adalah, memiliki simpul-simpul komunikasi dimana mereka merasa percaya, aman dan hormat pada simpul tersebut. Agent of change kalau ndak salah istilahnya ya. Contoh terdekat, di kampung mamak saya, kalau pak RT bicara di rapat RT, wuih!! juara banget dah. Presiden pidato juga kalah. Lalu di kampung mbok Minah, yang namanya posyandu itu gak ada matinya. Cuma modal dikasih bubur kacang ijo, tapi para ibu itu sangat percaya dengan apa yang dibilang sama para kader.
Manfaatkan simpul-simpul kecil yang dipercaya oleh warga, terutama mereka yang jauh dari paparan informasi. Berikan pak ketua RT dan kader posyandu ilmu yang banyak.
Sementara untuk jagoan-jagoan yang nggak lagi ikut rapat RT dan pergi ke pos yandu, Arisan ibu-ibu socialita, rapat di kantor, adalah simpul terdekat dan terpercaya buat mereka.
Gimana? Ide yang jumawa dan biasa aja kan?
Comment by dian — 1 December 2009 @ 10:59 am
soal kondom kok saya punya suatu pertanyaan begini ” hayoo pilih mana,Lebih baik haram/zina tapi pakai kondom atau zina/haram tapi tidak pakai kondom?? ”
dan soal pembagian kondom, itu toh dilakukan pada tempat2 yang semestinya dibagi ya?? CMIIW.
maksud saya, gak mungkinkan bagi2 kondom dilakukan di Mal2, ada satu pasangan yang lagi bergandengan tangan dengan aduhay lalu tiba2 dikasih kondom? kalo yang seperti ini sama aja dengan “nih gw kasih kondom, sana gih pasang diburung elo, terus naikin tuh pacar elo.” hehehe.
dan saya rasa beda kalo dibagi ditempat semestinya, tempat2 para PSK mungkin. kalo yang ini “nih kondom, lebih baik pakai ini toh daripada nggak?”
gitu kali..hehehehe
Comment by Radit Sotoy — 1 December 2009 @ 11:04 am
Setuju.
Sama kayak bagi2 sumpit di rumah makan Jawa. Nggak nyambung. Haduh… komentar orang lapar nih…
Bagemana sodara Frey?
Ada ide lain lagi?
Comment by dian — 1 December 2009 @ 11:11 am
@Dian, Tau gak yang demo2 itu banyak loch anak muda nya…
@Mas Radit, Setuju!!!
Comment by Frenia Nababan — 1 December 2009 @ 11:16 am
pantesan Jupe di peringatkan gara2 bagiin kondom dalam kaset dan CD, karena kl dipikir2 kan memang tidak semestinya, lha wong CD dan kaset adalah barang umum yang bisa di beli sama semua orang termasuk anak kecil hehehehe…
saya jadi inget berbagai pelatihan tentang HIV/AIDS yang pernah diikuti, halah… BTW penularan yang paling besar dari jarum suntik pemakai narkoba, karena emang itu yang susah dijangkau, nah kalo masalah PSK itu emang paling gampang dijangkau, setahu aku hampir di semua lokalisasi ada LSM/NGO yang memang mengurusi masalah tersebut, kegiatannya termasuk sosialisasi dan pemeriksaan rutin penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS. Biasanya mereka juga punya tim outreach yang tugasnya menjangkau para pemakai PSK (kayak di pelabuhan, ke tempat mangkal supir truk dll)
Comment by Mrs. Wiwit Potter — 1 December 2009 @ 12:10 pm
Kondisi terbaru sudah berubah angkanya, miss Potter.
Katanya, seperti ini data terbarunya:
50% dari hubungan seksual (hetero)
47% dari jarum suntik (IDU)
sisanya dari gay, transgender dan waria.
Comment by dian — 1 December 2009 @ 12:27 pm
eh bentar…bentar…itu yang 50% bukannya terbagi antara hetero dan gay?? dengan persentase terbanyak dari hetero?? CMIIW.
Comment by radit sotoy — 1 December 2009 @ 12:43 pm
tidak.
gay & waria & transgender yang terinfeksi karena hubungan seksual mereka cuma 3 persen itu.
tapi sekali lagi, itu yang tercatat lho…
angka sesungguhnya saya ndak tau,
Comment by dian — 1 December 2009 @ 12:53 pm
okelah kalo begitu… wahaaa… jadi kanngen kebersamaan dengan komunitas NGO di SMG dan sekitarnya, dimana dulu aku jadi aktivis dan langsung turun ke lapangan hahahahaha…
Comment by Mrs. Wiwit Potter — 1 December 2009 @ 1:28 pm
It is quite scary that there is still no cure for HIV/AIDS and the only way we can fight it is by prevention. How long would it take our scientists to develop a cure or vaccine for this disease?
!
Comment by Caramoantour — 28 December 2009 @ 12:18 pm